Sri Mulyani melaporkan kondisi Bank Century kepada SBY, 14 November. Hari itu juga, Sri Mulyani kembali ke Tanah Air. Tiba 17 November. Keadaan gawat. Sejumlah tindakan genting harus diambil.
Sejumlah rapat dengan Gubernur Bank Indonesia ketika itu, Boediono, harus segera digelar.
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan Semesta Alam. Berkat izin-Nyalah kita masih bisa merasakan nikmatnya Islam dan iman hingga saat ini. Serta shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah Nabi Muhammad, manusia paling mulia yang pernah ada dimuka bumi ini.
Beberapa hari yang lalu kita telah melewati suatu pesta demokrasi di D3 FMIPA Unpad yang kita cintai ini. Yaitu Pemilihan Raya Presiden BEM D3 FMIPA Unpad untuk masa bakti 2009 - 2010. Alhamdulillah pesta demokrasi ini terselenggara dengan baik dan lancar. Walaupun tidak bisa kita bohongi, ada beberapa kendala yang terjadi pada saat hajat demokrasi kampus ini. Namun kendala - kendala tersebut dapat teratasi berkat dukungan dari seluruh mahasiswa D3 FMIPA yang sangat luar biasa. Mulai dari proses pendaftaran capres hingga masa penghitungan suara semuanya berjalan damai dan demokratis. Hingga akhirnya menetapakan saya, Ade Fahrizal, sebagai presiden terpilih BEM D3 FMIPA Unpad masa bakti 2009 – 2010.
Kemenangan 299 suara (58%) dari 514 suara yang masuk selama Pemira, membuktikan betapa besarnya dukungan dan harapan yang diamanahkan kepada saya dari mahasiswa D3 FMIPA. Hal ini semakin membuat saya bersemangat untuk merealisasikan visi “Menuju kemenangan mahasiswa D3 FMIPA Unpad yang hakiki” semaksimal mungkin. Tentunya saya telah menyiapkan rencana strategis untuk mentransformasikan visi ini kedalam realitas kampus D3 FMIPA. Namun apa yang sudah saya rencanakan ini tidak akan berjalan dengan optimal tanpa dukungan dan partisipasi rekan – rekan mahasiswa D3 FMIPA semua. Karena rekan – rekanlah elemen yang sangat penting dalam menyukseskan rencana strategis ini.
Sebagai seorang mahasiswa, kita mempunyai tugas yang cukup penting selain kuliah. Yaitu mahasiswa sebagai Agent of Change. Maksudnya? Kita ini adalah agen perubahan, penggerak lokomotif perubahan ke arah yang positif. Apa yang sudah kita berikan kepada kampus ini agar menjadi lebih baik? Kampus ini menanti orang – orang kreatif seperti anda semua. Kita tidak boleh lagi hanya belajar di kampus ini. Kita harus segera bereksperimen dan berevolusi untuk suatu perubahan yang konkrit di kampus D3 FMIPA. Cukuplah selama ini mahasiswa D3 FMIPA terbelenggu dengan pemikiran – pemikiran sempit. Sekarang saatnya kita bangkit untuk suatu perubahan yang real!
Untuk itu, saya mengajak seluruh mahasiswa D3 FMIPA untuk bersatu dan bergabung bersama BEM untuk melakukan perubahan di kampus ini. Dukungan dan partisipasi aktif sangat saya nantikan dari rekan – rekan mahasiswa semua. BEM tidak ada apa – apanya tanpa dukungan rekan - rekan sekalian. Mari kita buktikan bahwa kita bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik di kampus ini. Insya Allah dengan ikhtiar dan tawakal yang maksimal semuanya bisa terjadi.
Semangat!!! Hidup Mahasiswa!!! Salam Perubahan!!!
"Allahu Akbar..!!" Pekik takbir menggema diantara orasi politik dan hiburan nasyid saat kampanye terbuka Partai Keadilan Sejahtera di Lapangan Gazibu Bandung. Kampanye yang digelar pada hari Ahad tanggal 29 Maret 2009 itu memang sudah ditunggu - tunggu oleh seluruh kader dan simpatisan PKS (termasuk saia, hehehe). Ya iyalah.. Karena ini adalah kampanye terbuka terakhir PKS di tanah Padjadjaran. Sehingga wajar jika pada saat kampanye ini seluruh hadirin begitu emosional, mulai dari nangis, jingkrak, berteriak takbir, de el el.
Nah, waktu itu saia berangkat ke Gazibu bersama rombongan dari DPC PKS Coblong. Setelah sarapan kupat sayur di Simpang Dago (yummii...), beberapa menit kemudian terlihat barisan rapi massa berjalan kaki memakai baju putih dan membawa bendera dan poster. Mereka turun dari arah atas Dago. Spontan massa PKS ini menjadi pusat perhatian di Simpang Dago (apalagi pada saat itu rame karena ada pasar). Sang orator yang naik disebuah mobil pick up terus berorasi "Kanngo wargi Bandung sadayana, ulah hilap contreng nomor dalapan. PKS nu pang hadena... nu bersih, peduli, sareng profesional, Allahu Akbar!!", begitulah ajakan sang orator. Di mobil pick up itu pula ada caleg - caleg PKS dari Dapil 1 Bandung.
Setelah puas beraksi di Simpang Dago, massa PKS pun mulai bergerak memasuki kawasan Dipati Ukur. Saia ikut bergabung ke dalam barisan PKS ini, berjalan kaki menuju Gazibu. Ternyata selidik punya selidik (kayak detektif aja...) ide jalan kaki menuju Gazibu ini adalah upaya PKS menghindari konvoi kendaraan bermotor yang berpotensi menyebabkan kemacetan. Memang benar, selama kami berjalan di kawasan DU, alhamdulillah barisan kami tidak menyebabkan kemacetan. Karena selain long march kami ini rapi (soalnya ada border/pembatas barisan), massa tidak terlalu makan porsi jalan raya. Selain itu hitung - hitung sebagai sarana jalan sehat di pagi hari yang sejuk di Kawasan Dago. Selama long march di DU ini pula kami membagi - bagikan stiker dan brosur caleg - caleg PKS, "Tong hilap contreng PKS yah...", ucap seorang akhwat ketika memberikan stiker kepada seorang bapak - bapak. Sementara saia sibuk menjadi photografer dadakan, hehehehe...
Sekitar 20 menit kemudian, rombongan kami pun akhirnya sampai juga di Lapangan Gazibu Bandung. Wah luar biasa... Ternyata simpatisan dan kader PKS sudah banyak yang hadir di Gazibu. Selain itu kepadatan di Gazibu ditambah pula para pedagang "Pasar Kaget Minggu Gazibu" yang semakin menambah semaraknya kampanye terbuka PKS ini. Massa PKS dan para pedagang pun saling membaur. Ya saling menguntungkan lah, massa PKS beli makanan atau barang - barang lainnya, para pedagang mendapatkan keuntungan dan stiker PKS (wah bonusnya stiker euyy... hehehe). Sebenarnya pada saat kami datang, kamapanye sudah dimulai. Tetapi baru sebatas hiburan - hiburan, seperti nasyid, puisi, kesenian daerah sunda, dan lain - lain. Kampanye sesi pertama pun ditutup sekitar pukul 12.45 wib karena bertepatan dengan sholat dzuhur.
Kampanye terbuka sesi kedua dimulai pukul 13.00 wib. Saia agak telat datang karena tempat sholatnya agak berjauhan dengan lapangan Gazibu, tepatnya di Asrama Kaltim. Apalagi saia jalan kaki... :( Pas saia datang sedang dipanjatkan doa kemenangan. Subhanallah... suasana tiba - tiba menjadi sejuk. sebagian hadirin ikut larut dalam hikmatnya suasana doa itu. Setelah doa, dilanjutkan dengan orasi - orasi politik. Mulai dari Ust Taufik Ridlo, Ust Ahmad Heryawan, Ust Suharna, Bu Ledia, dan Ust Hilmi. namun ditengah orasi Ust Ahmad Heryawan, berkah dari Allah, hujan, turun deras. Namun Subhanallah... hadirin tidak ada yang bubar! Mereka sudah siap dengan membawa payung (seperti saia...) dan jas hujan. Palingan hanya beberapa akhwat dan ibu - ibu yang sedikit mencari tempat teduh dibawah tenda. Begitu juga dengan para orator, mereka semua ikut hujan - hujanan. tidak ada rasa takut terkena sakit, karena kami yakin hujan in adalah berkah dari Allah. Sama seperti kampanye terakhir Pilkada Jabar, PKS mengusung Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (HADE), hujan juga turun deras... sama persis ketika kampanye sekarang. Setelah orasi, acara berikutnya adalah hiburan dari Band GIGI. Dan luar biasa pula, vokalis GIGI Kang Armand Maulana juga tampil sambil hujan - hujanan dengan beberapa hits - hits religinya.
Akhirnya kampanye terbuka ini selesai pukul 15.30 wib bertepatan dengan waktu ashar. Wah Subhanallah... semoga kemenangan itu diberikan kepada PKS dari Allah. amiinn...
Di luar perkiraan pengamat dan hasil survei, ternyata massa Partai Demokrat tidak sebesar yang diperkirakan oleh beberapa lembaga survei. Massanya disedot PKS? Kampanye pertama Partai Demokrat yang diselenggarakan di Jakarta dengan kekuatan penuh belum menunjukkan kebenaran prediksi para pengamat yang mengatakan PD akan merajai pemilu dengan suara 24% lebih.Bayangkan saja kekuatan dan dana yang dikerahkan untuk kampanye Jumat (20/3), PD menyewa Gelora Bung Karno dengan menghadirkan sejumlah artis top dan grup band papan atas yang memeriahkan kampanye ini antara lain grup band Ungu, Andra and The Backbone, The Changcuters, Cici Paramida, dan Dewi Yull bahkan dihadiri langsung oleh ketua dewan pembina PD, SBY.
Namun demikian animo masyarakat menghadiri acara ini tidak seperti yang diharapkan, GBK yang memiliki kapasitas penuh 120 ribu orang ternyata di kampanye PD kali ini, peserta hanya memenuhi separuh lapangan. Sementara di tribun, hanya tribun bawah saja yang terlihat penuh sementara tribun atas kosong. Bisa diperkirakan yang dateng tidak sampai 60ribu, jauh dari perkiraan panitia yang menargetkan 100ribu.
Pada waktu yang bersamaan PKS yang kampanye di 5 titik di Jakarta , yaitu di Lapangan Blok S Jaksel, GOR Johar Baru Jakpus, Gelanggang Remaja Jakut, Lapangan WIKA Klender Jaktim, dan Lapangan Mercu Buana Jakbar ternyata berhasil menyedot massa yang luar biasa, bisa dikatakan PKS memutihkan 5 penjuru Jakarta ini, dan massa yang hadir
diperkirakan menembus 100 ribu. Namun perlu diingat bahwa dalam kampanye ini PKS tidak menyewa sekian banyak artis dan grup band terkenal seperti PD. Inilah luar biasanya PKS.
Dari kondisi kampanye PD dan PKS tersebut di atas bisa dikatakan PKS menunjukkan bahwa mereka lebih memiliki dukungan riil di Jakarta, dengan kata lain PKS mampu menyedot massa PD, hal ini berkebalikan dengan prediksi pengamat akhir-akhir ini. Kampanye door to door atau direct selling dan aksi simpatik yang sudah PKS lakukan jauh-jauh hari sebelum waktu kampanye rapat umum ternyata lebih memikat hati warga Jakarta.
Iming-iming suguhan pertunjukan artis dan band papan atas bahkan kehadiran presiden RI dan juga ketua dewan pembina PD bapak SBY pun tidak mampu mengalahkan keinginan warga Jakarta untuk mendatangi dan meramaikan kampanye PKS di 5 penjuru Jakarta.
Hal ini juga menunjukkan image PKS sebagai partai bersih tidak luntur oleh berita negatif yang dihembuskan rival politiknya disamping itu warga Jakarta lebih percaya kalau PKS memang peduli, tidak hanya dekat-dekat pemilu. Dengan kondisi demikian bukanlah hal yang mustahil PKS memenuhi targetnya secara nasional sebesar 20%.
Namun demikian catatan dari kami bahwa PD dan PKS yang sama-sama merupakan partai besar menunjukkan kampanye yang baik dan bisa mengendalikan massanya, sehingga meskipun dilakukan pada waktu yang bersamaan tidak ada keributan antar pendukung partai.
(http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/03/21/92400/pks-sedot-massa-partai-demokrat/)
Pemilu 2009 tinggal menghitung hari. Semua parpol kini sibuk berkampanye (walaupun intensitasnya masih kecil – kecilan) untuk menjaring para pemilih. Selain parpol, para calon legislatif (caleg) dari setiap parpol juga sibuk berpromosi visi misi atau sekedar numpang naruh tampang di baliho dan pamflet. Pemilu kali ini memang cukup menarik. Seperti ada aura tersendiri untuk pemilu 2009 (tapi bukan aura kasih lho...). Mengapa saya katakan seperti itu?? Lihat saja fakta di TKP (hee...).Lantas saya bertanya – tanya di dalam relung hati yang terdalam (lebaayy..), kenapa sih pada daftar jadi caleg?? Tidak bisa kita bohongi, ketika seseorang telah menjadi atau terpilih sebagai anggota legislatif maka tiba – tiba seperti “tajir” medadak. Yang dulunya naik motor, kini naik mobil (walaupun plat merah) dan ada supir pirbadinya. Yang dulunya mempunyai rumah dari kayu (kena banjir pula), berubah menjadi rumah bertembok batu dan bertingkat. Nah apa ini semua yang menjadi daya tarik masyarakat untuk berlomba – lomba menjadi anggota legislatif?? Ingin menjadi tajir alias kaya?? Jawaaabbb...!!! (Lho..sabar kang..)
Kalo ternyata hal – hal diatas menjadi dasar seseorang untuk maju menjadi caleg, saya yakin betapa bobroknya legislatif di negara kita di masa yang akan datang. Bayangkan.. Materi yang menjadi tujuan (itupun untuk pribadi) bukan aspirasi rakyat lagi yang diperjuangkan, astaghfirullah. Padahal ketika kampanye dan promosi ke konstituen ataupun grass root, setiap caleg pasti berjanji “Saya akan memperjuangkan aspirasi anda...hak anda...kebutuhan anda...bla...bla...bla”.
Apakah ini potret calon legislatif di Indonesia?? Rekan – rekan blogger (dan siapa pun yg membaca posting ini), kita harus menjadi pemilih cerdas (bagi yang udah punya hak pilih ya). Memilih berdasarkan track record kalo kata P** bukan karena pemberian kaos, uang, atau janji – janji kosong. Jadilah pemilih yang dinamis tidak apatis, maksudnya mencari background parpol atau caleg yang akan kita pilih. Apakah bersih, peduli, dan profesional?? Jika tidak, katakan “Anda bukan pilihan saya!!!” (he..he..he..)
Ada-ada saja yang dilakukan oleh partai yang bernomer delapan ini. Yang menandakan kreatifitas kadernya yang seolah tidak akan pernah mati. Maklum saja, partai ini memang diisi oleh orang-orang muda yang umumnya berusia � di bawah lima puluh tahun. Itulah pendapat seorang ibu penjual nasi.Mendadak menjadi dangdut mungkin sudah tidak asing lagi ditengah kita. Sebuah karya perfilman indonesia yang menyarikan kisah seorang penyanyi pop yang pindah aliran musik menjadi dangdut. Dan hal diatas telah menjadi biasa. Lalu apa yang tidak biasa dipanggung perpolitikan di negeri ini ? PK-Sejahtera mendadak menjadi “Artis” politik.
Setidaknya itulah opini yang terbentuk dimasyarakat. PKS, sebuah partai kecil yang hanya bermodalkan kreatifitas dan kerja keras mencoba memberikan sedikit sensasi di panggung perpolitikan negeri ini. Agar menjadi sedikit lebih tenar.
PK-sejahtera telah mampu memberikan Shock terapy politik untuk semua kalangan; kolega sesama partai, ormas-ormas islam, pengamat politik higga rakyat kecil pun ikut nimbrung berkomentar. Ada yang berkomentar negatif dan tak sedikit pula yang positif. Hal ini justru akan membuat PK-sejahtera semakin terkenal.
PK-sejahtera ini sebenarnya sangat cerdas memanfaatkan kesempatan. Mereka melihat peluang sekecil apapun untuk direalisasikan seolah mereka berprinsip “ada aksi maka akan timbul reaksi". Masalah apakah reaksi yang timbul akan berdampak negatif atau positif itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah memanfaatkan moment. Seperti manuver yang mereka lakukan pada saat hari pahlawan.
Membuat sebuah iklan yang hingga saat ini masih terus menjadi kontroversi di semua kalangan. Langkah yang diambil PK-Sejahtera dinilai sangat berani. Sehingga membuat banyak kalangan merasa tidak tenang dan kebakaran jenggot atas ulahnya tersebut.
Banyak pengamat politik menilai, bahwa berbagai dampak yang timbul akibat tindakan mereka itu. Kontroversi ini bisa saja akan menguntungkan PK-Sejahtera. Namun, juga tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini juga akan menjadikan PK-Sejahtera kehilangan "pesonanya" selama ini. Akan tetapi yang sangat membuat para pelaku politik pusing tujuh keliling adalah sikap PK-Sejahtera ini yang Kelihatannya sangat "cuek bebeknya" dengan dampak dari perbuatan mereka. Seperti ibarat pepatah" biarlah anjing menggonggong kafilah pun tetap berlalu". Jadi, seperti apapun komentar yang diberikan bagi PK-sejahtera ini tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan bagi keberlangsungan agenda partai besar ini.
Pejuang yang tidak kelihatan
Begitulah sebagian masyarakat yang pro pada partai ini menilai PK-Sejahtera. Memperhatikan manuver-manuver yang dilakukan oleh wakil rakyat di senayan, maupun di tinggkat provinsi dan kota. Banyak masyarakat yang mulai jatuh hati pada PK-sejahtera, akan tetapi tidak sedikit juga yang kontra. Sehingga mereka menilai bahwa PK-sejahtera hanya ingin menarik simpati agar bisa meraih kursi sebanyak-banyaknya di pemilu 2009. tapi apa iya PKS seperti itu? hanya mencari sensasi untuk meraup kursi ?
Mencoba memposisikan diri menjadi partai yang hanya memberi janji bukan bukti, setidaknya hal itulah yang membentuk frame berfikir masyarakat saat ini. Karena sepertinya masyarakat telah terlanjur kecewa dengan semua parpol yang ada, sehingga mereka hanya pasrah dan tidak punya pilihan. Menurut mereka apapun yang dipilih toh sama saja, tidak akan membawa prubahan bagi kehidupan mereka.
Pemikiran ini akhirnya dapat berdampak negatif sehingga menimbulkan sikap golput. Tanpa mereka sadari yang sebenar-benarnya pengauasa adalah mereka sendiri. Padahal, tanpa suara meraka perubahan yang mereka inginkan tidak akan pernah terwujud. masyarakat hari ini sudah terlanjur tidak perduli dengan batasan kekuasaan mereka yang sebenarnya tidak terbatas.
Partai kreatif
Ada-ada saja yang dilakukan oleh partai yang bernomer delapan ini. Yang menandakan kreatifitas kadernya yang seolah tidak akan pernah mati. Maklum saja, partai ini memang diisi oleh orang-orang muda yang umumnya berusia “balita” di bawah lima puluh tahun. Itulah pendapat seorang ibu penjual nasi.
Atau dilain waktu seorang mahasiswa yang tidak mau di sebut identitasnya mengungkapakan, bahwa PK-sejahtera ini selalu kreatif untuk memulai sesuatu yang memihak rakyat kecil, seperti serinya mereka melakukan bakti sosial, membagikan parcel lebaran ke pedagang kaki lima yang lumrah terjadi dinegeri ini membagi parcel ke pada para pejabat. Pokoknya PK-Sejahtera ini emang kagak ade matinye deh. Sebagai partai yang sangat kreatif sekali PK-Sejahtera ini selalu memberikan aura positif kepada masyarakat luas.
Konsisten, Bersih, peduli dan prefesional
Sebagai partai berbasis kader PKS lebih membangun karakter partai sesuai motto bersih, peduli dan profesional. Tidak memilih tempat, baju, ras, atau apapun backgroundnya, motto itulah yang menjadi pembedanya dengan partai-partai yang lain. dan membuat partai ini memutuskan untuk menjadi partai tengah dan terbuka, tidak hanya berbasis islam tetapi juga islam nasionalis.
Bersihnya PKS telah diketahui banyak orang, pedulinya PKS telah dirasakan para korban bencana ataupun upaya penghargaan kepada guru dan silaturahmi keluarga pahlawan serta penganugrahan 106 pemimpin muda sebagai bagian dari pencitraan kepedulian.
Profesionalnya PKS bisa dilihat dari rapihnya administrasi kepartaian, serta tidak adanya konflik internal yang mengganggu kinerja partai ditengah fakta partai lain saling gontok-gontokan berebut kursi pimpinan.
Profesionalnya juga bisa dilihat dari gaya kampanye, program, ataupun iklan yang benar-benar beda dari mainstream partai-partai Indonesia. Iklan yang hanya bermodal Rp 2 miliar dan tayang hanya sekitar tiga hari saja, tapi dibicarakan berminggu-minggu di media massa.
Benar atau tidaknya analisa ini hanya PKS yang tahu, tetapi seperti kita ketahui, PKS mempunyai banyak kader bergelar doktor, master dan sarjana, yang mereka klaim sebagai partai dengan kader doktor terbanyak di Indonesia.
“Padamu negeri kami mengabdi...”
“Bagimu negeri jiwa raga kami...”
Komposisi penduduk Indonesia terdiri dari beberapa lapisan. Ada mahasiswa, pegawai negeri, pegawai swasta, pelajar, politisi, dan sebagainya. Saya termasuk di dalam komposisi sebagai mahasiswa. Tentunya dari setiap komposisi penduduk diatas mempunyai fokus orientasi yang berbeda – beda. Saya ambil contoh mahasiswa. Mahasiswa mempunyai fokus orientasi yaitu pembelajaran, penelitian, dan pengaplikasian. Begitu juga dengan komposisi penduduk yang lain, mempunyai masing – masing fokus orientasi. Sudah barang tentu, dari setiap komposisi penduduk tersebut mempunyai keahlian di fokus orientasi mereka masing - masing. Contoh mahasiswa (karena saya mahasiswa, jadi contohnya mahasiswa lagi, he3x) mereka ahli dibidang akademik yang mereka pelajari, seperti teknik informatika (IT), ekonomi, hukum, kedokteran, dan lain – lain. Nah dari keahlian di bidang masing – masing inilah, diharapkan mampu memberikan sesuatu (apapun itu) untuk rekonstruksi negeri ini.
Seperti misalnya, mahasiswa yang fokus pelajarannya dibidang (IT) membuat software – software aplikasi pembelajaran untuk siswa SD, SMP, SMA yang tujuannya untuk membantu proses belajar serta peningkatan kaulitas SDM itu sendiri. Atau mahasiswa yang fokus pelajarannya dibidang ekonomi, membuat rancangan sistem ekonomi yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat kemudian ditawarkan kepada Pemerintah melalui Depkeu, siapa tau saja di accept. Keren juga kan kalau ada headline berita, “Indonesia Keluar Dari Krisis Global Berkat Sistem Ekonomi Yang Dikonsep Mahasiswa”. Tidak hanya dari mahasiswa, tetapi para pegawai negeri atau swasta, politisi, dokter, profesor, dan lain – lain juga mampu dan harus memberikan sumbangsih pemikiran dan tindakan nyata dari bidang mereka. Nah hal – hal seperti inilah yang diharapkan dapat terjadi di masa sekarang atau di masa depan. Suatu gerakan tulus untuk mengatasi permasalahan bangsa melaui bidang – bidang fokus orientasi masing – masing.
Kita semua tentunya berharap, semua permasalahan – permasalahan bangsa yang terjadi saat ini dapat segera teratasi. Namun apa kita hanya bisa berharap tanpa adanya suatu tindakan nyata?? Apa kita hanya berharap kepada pemerintah saja untuk menyelesaikan permasalahan ini?? Lalu kita telah atau akan berbuat apa untuk mengatasi permasalahan ini?? Mari kita ubah cara berpikir kita. Jangan pernah bertanya apa yang sudah bangsa ini berikan untuk kebaikan kita, tapi bertanyalah apa yang sudah kita berikan untuk kebaikan bangsa ini. Ayo kita kobarkan semangat perubahan dan perbaikan dalam diri kita. Lakukanlah hal sekecil apapun untuk negeri ini. Yang dapat mengatasi permasalahan – permasalahan negeri ini adalah warga negaranya sendiri. Jangan pernah berharap kepada asing. Buktikan bahwa kita mampu! Bagimu negeri... Jiwa raga kami...
(http://www.eramuslim.com/ustadz/pol/7809190344-fenomena-pks-amp-kemiripannya-dengan-ikhwanul-muslimun.htm)
Assalamualaikaum Wr Wb,
Pak Ustad yang saya kagumi, fenomena PKS (partai keadilan sejahtera) begitu dahsyat, dalam beberapa dekade sudah menjadi salah satu kekuatan politik di Indonesia, bagaimana Pak Ustad menyikapinya? Apakah ini salah satu tanda kebangkitan Islam di indonesia? Dan kemiripan dengan gerakan dakwahnya dengan IM (ikhwanul Muslimun)
Demikian terima kasih.
Yudhi Pamungkas
cust-support@indotruck-utama.co.
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Anda bukan orang yang pertama kali tertarik mengamati fenomena PKS, sudah banyak para pengamat dan cendekiawan yang berdecak kagum melihat penyebaran kader partai ini, kecepatan mereka dalam meraih kemenangan demi kemenangan serta kesolidan struktur tubuhnya.
Tidak kurang kalangan yang 'memusuhi' atau katakanlah kalangan yang menjadi lawan politik merekajuga banyak yangikut tercengang. Dan tidak sedikit yangketar-ketir melihat perkembangannya yang sangat sporadis.
Dan baru saja hal itu terbukti. Meski kalah dalam pilkada Jakarta kemarin, namun kekalahan itu oleh banyak pengamat dikatakan sebagaikemenangan besar, atau kemenangan yang tertunda. Sebab PKS dikeroyok oleh semua partai, tidak kurang dari 20 partai berkoalisi, ditambah barisan para kiayi, ulama, habaib, termasuk aparan pemda DKI. Semuanya bersatu menggempur PKS.
Kalau menggunakan logika hitung-hitungan biasa, dikeroyok habis-habisan seperti itu, pasti PKS keok di hasil penghitungan.Bisa mendapat angka 2% saja sudah untung. Tetapi kenyataannya, PKS hanya kalah tipis saja dalam penghitungan suara. Artinya, kekuatan keroyokan 20 partai tidak berhasil membungkam PKS. Justru pemilihnya sangat besar dan ini membuktikan bahwa mesin politik PKS bekerja sempurna.
Sebaliknya mesin politik 20 partai plus plus banyak yang bilang nyaris hampir kecolongan. Bahkan meski PKS diisukan sebagai partai GAM (gerakan anti maulid) serta isu-isu lainnya yang merugikan.
Semua ini mengerucutkan kesimpulan kita pada satu titik, bahwa PKS adalah contoh sebuah partai kader yang serius menggarap para kadernya menjadi militan dan bisa bekerja under preasseure, bahkan tanpa suntikan uang yang berarti. Padahal ketika berdiri pertama kali, Partai Keadilan (saat itu belum ada tambahan Sejahtera) tidak masuk hitungan, bahkan harus bereingkarnasi karena tidak lulus trashhold 2%.
Lalu apa yang bisa kita pelajari dari fenomena PKS ini?
Lepas dari masalah keberpihakan dan pilihan kita, fenomena PKS ini membuktikan beberapa hal:
1. Sebuah partai akan menjadi kuat bila punya konsep kaderisasi yang profesional. Tidak didasarkan pada kekuatan figurnya, atau impian kenangan kejayaan masa lalu. Keduanya terbukti tidak efektif.
2. Partai yang mengusung isu keIslaman atau berbasis umat Islam bukan hanya PKS. Tetapi yang berhasil menggalang kekuatan besar pemilih adalah PKS. Setidaknya untuk ukuran DKI Jakarta dari hasil pilkada lalu.
Ini mebuktikan bahwa sekedar mengusung isu keIslaman dan berbasis umat Islam, belum tentu bisa menangguk kemenangan. Yang lebih berperan adalah mesin kampanye yang kuat, bisa bergerak tanpa harus mengajukan proposal dana dan anggaran. Di PKS, mesin itu adalah jutaan kader yang menjadi SDM yang tidak ada habisnya. Mereka umumnya masih muda, berpendidikan, berpenghasilan tetap bahkan sebagiannya lumayan, enerjik, dinamis dan punya wawasan politik yang semakin hari semakin baik.
3. Kesiapan untuk menerima tokoh dari luar kader sedikit banyak telah memberi kesan bahwa partai ini terbuka dan bisa bekerja sama dengan siapa saja. Adang Daradjatun tidak pernah ikut ngaji halaqoh di DPP PKS, juga tidak pernah ikut tatsqif mingguan dan tidak diwajbikan menghafal juz 'amma atau doa rabithah. Walaupun banyak kader PKS sendiri yang semula ragu dengan sosoknya, setelah ditetapkan oleh syuro internal, maka semua kader suka atau tidak suka harus menjadi mesin 'perang' yang efektif.
Kalau di partai lain ada kebijakan yang kurang populer seperti ini mungkin partai itusudah pecah jadi lima atau enam partai. Tapi nyatanya diPKS tidak pernah muncul PKS Perjuangan, atau PKS kubu A, kubu B dan kubu C. Hal itutidak terjadi, setidaknya tidak terlihat di hadapan publik. Mereka masih terlihat kompak, akur, rukun dan bersatu.
Padahal para tokoh umat Islam yang menjadi pendahulu dan senior mereka di partai Islam lain jarang yang lulus dalam ujian persatuan, meski nama partainya menggunakan istilah persatuan. Tapi hobinya bikin pecahan baru. Dan fenomena inicukup menggelikan hati sekaligus menyedihkan.
